Skip to content

Dokar berduka

May 4, 2011

Siapa yang tidak tahu Dokar. Transportasi tradisional yang mempunyai dua roda dan ditarik oleh satu kuda dan dulu pernah berjaya ditahun 1960’an menjadi transportasi alternatif masyarakat Bali. Kini Dokar jangankan digunakan, dilirik pun jarang. Imbas gampangnya membeli kendaraan roda 4 dan roda 2 berdampak Dokar menjadi pilihan nomor sekian.

Siang itu matahari sangat panas, Jl Gajah Mada Kota Denpasar yang menjadi pusat perdagangan Bali dipenuhi kendaraan baik umum maupun pribadi. Kemacetan sepanjang jalan pun tidak terhindarkan walau agak berkurang sejak diberlakukannya perubahan jalur lalu lintas di seputaran Jl Gajah Mada.  Berkurang? ya mobil yang parkir sepanjang badan jalan berkurang sehingga seluruh jalan bisa digunakan para pengendara. Macetnya??? tetepppp karena jumlah kendaraan di Bali khususnya Denpasar yang sudah tidak terhitung lagi.

Pasar Badung yang biasanya kumuh oleh pedagang liar kini tertata rapi karena pedagang mulai ditertibkan dan banyak pedagang yang dulu berjualan di Jl. Gajah Mada kini tersebar di beberapa jalan seperti Jl.Sutomo, Jl. Kartini  dan sekitarnya.

Pemandangan menarik saya temukan di Ujung Jalan Sutomo (dekat dengan Br. Grenceng), Dokar parkir tepat dibawah pohon rindang dan kusirnya tertidur pulas entah karena lelah beraktifitas atau lelah menunggu penumpang. Disatu sisi beberapa kendaraan umum plat kuning mengangkut penumpang yang hendak pulang selesai dari berbelanja. Kendaraan yang mirip dengan andong (andong rodanya 4) ini dulu digunakan untuk transportasi dari pasar kerumah atau sebaliknya, kini hanya bisa pasrah menerima nasib akibat kerasnya persaingan dan kehilangan wibawa dimata masyarakat.

Adalah tugas Pemerintah untuk melestarikan keberadaan dokar. Pemerintah Kota Denpasar sempat mewacanakan Objek City Tour. Tak lebih 2 jam dengan menggunakan Dokar, para turis bisa menikmati keindahan wisata Kota Denpasar sebagai Kota Warisan Budaya seperti Pasar Badung dan Kumbasari sebagai pasar tradisional, Hotel Ina sebagai Hotel Tertua di Denpasar, Lapangan Puputan Badung dan Patung Catur Muka, Museum Bali, Puri Satria dll. Upaya ini harus terus digalakkan sehingga bisa menyelamatkan kendaraan yang dulu mempunyai wadah bernama Perdoden (Persatuan Dokar Denpasar). Selain sebagai objek wisata, transportasi yang terkenal dengan pecuttya ini juga ditampilkan pada event-event tertentu seperti Pesta Kesenian Bali dan Lomba Dokar Hias HUT Kota Denpasar.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: