Skip to content

Omed-omedan, Ikon Budaya dan Pariwisata Denpasar

March 13, 2009

Omed-omedan, saling gelutin, saling kedengin diman…diman“. Itulah sedikit lirik musik yang dibawakan oleh band Bali XXX (baca: triple x) yang kalo di Indonesiakan kurang lebih omed-omedan, saling rangkul, saling tarik, cium-cium yang berusaha mengangkat satu tradisi unik Kota Denpasar yaitu Omed-omedan yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini. Budaya dan tradisi ajang jodoh yang dimiliki masyarakat Br. Kaja Desa Pekraman Sesetan ini akan dijadikan ikon budaya dan Pariwisata Kota Denpasar dalam mewujudkan Kota Denpasar yang berwawasan budaya. Atraksi ini akan dikemas dalam bentuk Sesetan Heritage Omed-omedan Festival 2009 yang akan diselenggarakan sehari setelah hari raya Nyepi atau pada hari Ngembak Geni, 27/3 mendatang.

Kota Denpasar dalam menjaga warisan buadaya leluhur, telah melaksanakan beberapa event seperti Gajah Mada Town Festival dan Denpasar Makanan Warisan Budaya. Dijaman modern ini, kita harus mampu menjaga kelestarian budaya leluhur tanpa harus meninggalkan norma-norma yang ada. Event Sesetan Heritage Omed-omedan Festival 2009 akan dikemas secara modern yang didalamnya juga akan dikolaborasikan dengan festival makanan tradisional bali. Band kebanggaan masyarakat Bali Triple XXX yang merilis single omed-omedan  juga akan memeriahkan acara ini.

omed_omedanBudaya Omed-omedan Warga Sesetan

Seperti diceritakan, Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh.

Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.

Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya.

Ajaibnya setelah itu raja kembali sehat seperti sediakala. Raja lalu mengeluarkan titah agar omed omedan harus dilaksanakan tiap hari raya nyepi. Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda mudi tersebut.

Warga yang taat adat tidak menghiraukan larangan Belanda dan tetap menggelar omed omedan. Namun tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed omedan biasa digelar. Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed omedan dilaksanakan kembali tapi sehari setelah Hari Raya Nyepi.

3 Comments leave one →
  1. April 11, 2009 12:40 pm

    Kalo sekilas mendengar cerita med-med an ini saya sedikit merasa ini budaya yang aneh..dan cerita bagaimana budaya ini terjadi sungguh tidak masuk di akal, tapi itulah budaya. Mengapa aneh, cium ciuman dengan alasan ndak jelas. wekeke.
    Kalo jujur budaya ini jauh lebih baik dari pada budaya yang ngetren saat ini yaitu ‘beling malu mare nganten’.

    Keep bloging bro.

    Dewa Rama:
    Denger2 seh kalo budaya ini ga dilaksanain, maka akan terjadi hal2 aneh di daerah setempat seperti penduduk terimbas penyakit (istilah Balinya grubug) dsb. Yah namanya budaya, masyarakat sebagai bagian dr daerah setempat hanya mengikutinya (mgk sudah tercantum dlm awig2 atau aturan desa).
    Nah kalo beling malu mare nganten itu ga tercantum dlm awig2 hahahahha. Katanya seh dites dulu, kalo positif mare nganten. Laki2 sekarang ga mau rugi hahahahahaha.

  2. dulu boleh sekarang jangan permalink
    March 12, 2011 12:17 am

    kaget gue gan,ternyata di bali ada tradisi begituan,ada jg pesertanya yg bilang ,
    ikut begituan karena melestarikan budaya,

    ane kasih tau ya gan,
    dulu ada tradisi sesama saudara kandung boleh nikah,(saat jumlah manusia di bumi msh bs dihitung dgn jari)

    dulu ada tradisi boleh telanjang bulat( karena saat itu belum ada yg bisa buat baju,apalagi pabrik tekstil)

    dulu ada tradisi bayi perempuan dikubur hidup2 dan bayi laki2 dibunuh saat jaman nabi musa dan firaun(karena blm dtg ajaran agama yg melarangnya)

    dulu ada tradisi membuat patung dari bahan roti dan kemudian menyembahnya namun saat kelaparan dimakan pula patung sembahannya

    ada ribuan bahkan mungkin jutaan tradisi yg diciptakan manusia,
    berdasarkan hasil imajinasi,olah seni ,serta nafsu yg menyelimuti manusia itu sendiri

    kemudian turunlah Ajaran Agama samawi yg mencerahkan serta menyaring jutaan tradisi karya manusia dibumi ini

    jadi wajar klu ada tradisi yg harus musnah atau tidak perlu dilestarikan setelah diseleksi oleh ajaran Agama Samawi

    KARENA MANUSIA BUKANLAH MAHKLUK SEMPURNA DLM HAL CIPTA MENCIPTA SEBUAH TRADISI /HUKUM

    Hanya Tuhan Yang Maha Esalah satu2 zat Sempurna dalam hal membuat Aturan untuk Manusia dan dijamin Kebenarannya yg tertuang dalam firman-firmannya

Trackbacks

  1. Festival Omed di Bali | Catatan Dika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: