Wisata oh wisata, nasibmu kini. Mungkin kalimat itu yang bisa saya ucapkan untuk Wisata, tempat nonton film yang pernah eksis dan bisa dibilang paling terkenal sebagai tempat nongkrong bagi anak muda Denpasar. Tapi sekarang itu hanya tinggal kenangan. Kumuh, sepi, tempat nongkrong orang-orang berandalan dan maaf…tempat mesum adalah beberapa faktor yang mempengaruhi hilangnya minat masyarakat untuk menonton disana. Yang paling mengejutkan, Wisata sekarang sudah dijadikan tempat korupsi baru bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ini saya alami sendiri saat terpaksa mengunjungi Wisata untuk menonton Twilight karena ketinggalan untuk menontonnya di Galeria.
Kejadian ini saya alami sekitar pertengahan Pebruari bersama pasangan. Tiba di wisata sekitar jam 18.30 wita dimana film akan diputar tepat jam tersebut. Hujan mengiringi gerak langkah kaki untuk cepat beranjak dari tempat parkir menuju lantai II Wisata. Baru tiba di Lantai I, saya sudah disambut tatapan tajam pemuda-pemuda ga jelas yang sedang asik duduk-duduk di depan kios-kios sepanjang lorong Wisata. Perasaan was-was dan takut bercampuraduk menjadi satu dan selalu berharap tidak terjadi hal-hal negatif yang menimpa saya bersama pasangan. Syukurlah kita mampu melewatinya dan tanpa tolah-toleh menuju lantai II. Tetapi kesan kumuh dan sepi kembali mengotori mata saya tepat didepan eskalator untuk naik ke lantai II Wisata .




