Baris, Pengatur dan Pengawas Ritme Roda Kehidupan Denpasar
Mungkin banyak blogger yang bertanya-tanya, kenapa Baris (salah satu tarian tradisonal Bali) menjadi icon Sightseeing Kota Denpasar. Brand yang resmi diperkenalkan sejak tahun 2008 memiliki tagline The Heart Of Bali menghadirkan Baris sebagai slogan untuk memberikan penggambaran bahwa Kota Denpasar mempunyai landasan sejarah budaya yang begitu mendasar. Sehingga Sightseeing Denpasar secara keseluruhan dibangun sebagai sebuah identitas yang dilandasi oleh semangat untuk mengekspresikan kharisma Kota Denpasar sebagai kota wisata budaya dinamis sekaligus sebagai denyut nadi Pulau Bali.
Dari sejarah Puputan Badung, Baris menyampaikan berbagai makna berkaitan dengan prinsip-prinsip kejatidirian, keberanian, kewaspadaan, kebangkitan ataupun kemuliaan. Puri-puri sebagai pusat kerajaan di jamannya, meninggalkan nuansa kota yang penuh ritmik dan dinamis, seperti sedang mengawasi dan mengatur ritme roda kehidupan Kota Denpasar untuk bergerak maju dalam keharmonisan.
Dominasi warna orange yang memvisualkan makna kebijaksanaan, mencerminkan karakter arsitektur puri dengan dominasi warna merah bata. Warna ini pula menjadi pintu gerbang sekaligus bingkai Kota Denpasar yang pada hakekatnya kaya akan warna (multikultural).
Dalam perspektif Denpasar sebagai The Heart Of Bali, Baris seperti sedang menyampaikan identitasnya, bahwa Denpasar tidak hanya secara geografis terletak ditengah Pulau Bali yang mudah diakses, tapi Denpasar juga sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan, informasi, pariwisata, termasuk juga sebagai pusat kajian sejarah, seni dan budaya. Denpasar sebagai kota yang penuh nilai menjadikan dirinya sebagai denyut nadi Pulau Bali. Pulau yang tentunya sudah mempunyai brand begitu kuat di manca negara. Selain itu kedepan terkait dengan era globalisasi, perkembangan wisata dan pasar bebas, Kota Denpasar tidak hanya terbuka sebatas komunikasi lokal dan nasional, namun semakin dinamis dan mendunia.
Dalam perspektif Denpasar sebagai kota tujuan wisata Bali, Baris seperti sedang menyambut da menyampaikan identitasnya sebagai kota yang dapat meninggalkan sejuta kesan dan harapan. Kota yang biasanya identik dengan kehirukpikukan, polusi dsb. Ditambah lagi dengan pola hubungan masyarakat yang individualis. Baris seperti sedang mengajak semua komponen masyarakat untuk meghadirkan paradigma baru dengan mencitrakan Denpasar lebih dari sekedar kota. Diawali dengan membangun sikap kebersamaan dan toleransi dalam kehidupan multikultur, mengangkat nilai dan semangat pusaka, didukung lagi dengan upaya pembenahan dan peningkatan infrastruktur yang berkesinambungan, akan menjadikan Denpasar sebagai pilihan kunjungan wisata khususnya bagi yang ingin mengenal dan merasakan cita rasa Bali secara lebih mendalam dan pemikiran lintas sektoral pada akhirnya harus mampu mencitrakan Denpasar lebih dari sebuah kota.
Berpayung pada Branding Bali yang berakar pada tagline Shanti,Shanti,Shanti, SightSeeing Denpasar memegang amanat dan tanggungjawab, yang pada akhirnya diharapkan dan mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Indonesia (Visit Indonesia Year). (sumber: Buku Pesona Denpasar – Pemerintah Kota Denpasar)











Rahajeng Semeng, dumogi kenak rahayu lan dirgayusa, tentunya hasil jepretannya semakin bagus n top …
Dewa Rama:
Om swastiastu…. rahajeng semeng
Mangde http://nakbalibelog.wordpress.com makin jaya hehehehe…
ngiring sareng2 berbagi informasi…
Denpasar or denpasar, pusat pemerintahan sekaligus perekonomian di Bali, sudah selayaknya pula Denpasar lebih giat menggakat budaya Bali khususnya tari sebagai salah symbol yang mana merupakn identitas baginya…
Lestari Baliku..
Suksma Bli untuk tempat komentnya…,